ANTIBODI MONOKLONAL
Pengertian Antibodi Monoklonal
Antibodi
merupakan campuran protein di dalam darah dan disekresi mukosa menghasilkan
sistem imun bertujuan untuk melawan antigen asing yang masuk ke dalam sirkulasi
darah. Antibodi dibentuk oleh sel darah putih yang disebut limfosit B. Limfosit
B akan mengeluarkan antibodi yang kemudian diletakkan pada permukaannya. Setiap
antibodi yang berbeda akan mengenali dan mengikat hanya satu antigen spesifik.
Antigen merupakan suatu protein yang terdapat pada permukaan bakteri, virus dan
sel kanker. Pengikatan antigen akan memicu multiplikasi sel B dan penglepasan
antibodi. Ikatan antigen antibodi mengaktivasi sistem respons imun yang akan
menetralkan dan mengeliminasinya.Antibodi memiliki berbagai macam bentuk dan
ukuran walaupun struktur dasarnya berbentuk `Y. Antibodi tersebut mempunyai 2
fragmen, fragmen antigen binding Fab dan fragmen cristallizable Fc. Fragmen
antigen binding Fab digunakan untuk mengenal dan mengikat antigen spesifik,
tempat melekatnya antigen antibodi yang tepat sesuai regio yang bervariasi
disebut complementary determining region (CDR) dan Fc berfungsi sebagai efektor
yang dapat berinteraksi dengan sel imun
atau protein serum.
Antibody
monoclonal adalah antibody yang diproduksi dari sel-sel yang berasal dari satu
sel klon, sedangkan klon adalah segolongan sel yang berasal dari satu sel dan
karenanya identik secara genetik. Kloning dapat dilakukan dengan mengencerkan
larutan sel sedeikian rupa, sehingga dalam biakan sel diperoleh sumuran yang
hanya mengandung satu sel (Karnen, 2018).
Antibody
monoclonal adalah antibody yang identik karena diproduksi oleh satu jenis sel
imun yang berasal dari satu sel induk tunggal (Somesh, 2013).
Tipe – Tipe
Antibodi Monoklonal
Antibody monoklonal
memiliki 4 tipe, yaitu :
a. Murine,
murni didapat dari tikus dan menyebabkan human anti mouse antibodies (HAMA)
nama akhirannya momab (ibritumomab).
b. Chimeric,
gabungan fc antibody human dan Fab antibody monoclonal tikus nama akhirannya
ximab (rituximab).
c. Humanized,
hanya sebagian kecil Fab antibody tikus yang digabungkan dengan antibody human
nama akhirannya zumab (trastuzumab).
d. Fully
human, keseluruhan antibody human nama akhirannya munab (adalimunab).
Cara Pembuatan Antibodi Monoklonal
Kőhler dan Milstein
menjelaskan bagaimana caranya mengisolasi dan mengembangkan antibodi monoklonal
murni spesifik dalam jumlah banyak yang didapat dari campuran antibodi hasil
respons imun.1 Tikus yang telah diimunisasi dengan antigen khusus ke dalam sumsum
tulang akan menghasilkan sel limfosit B yang
memiliki masa waktu hidup terbatas dalam kultur, hal ini dapat diatasi
dengan cara menggabungkan dengan sel limfosit B tumor (myeloma) yang abadi.
Hasil campuran heterogen sel hybridomas dipilih hybridoma yang memiliki 2
kemampuan yaitu dapat menghasilkan antibodi khusus dan dapat tumbuh di dalam
kultur. Hybridoma ini diperbanyak sesuai klon individualnya dan setiap klon
hanya menghasilkan satu jenis antibodi monoklonal yang permanen dan stabil.
Hybridoma yang berasal dari satu limfosit akan menghasilkan antibodi yang akan
mengenali satu jenis antigen. Antibodi inilah yang dikenal sebagai antibodi
monoclonal.
Proses pembuatan antibodi
monoklonal melalui 5 tahapan yaitu :
1.
Imunisasi tikus
dan seleksi tikus donor untuk pengembangan sel hybridoma Tikus diimunisasi
dengan antigen tertentu untuk menghasilkan antibodi yang diinginkan. Tikus
dimatikan jika titer antibodinya sudah cukup tercapai dalam serum kemudian
limpanya digunakan sebagai sumber sel yang akan digabungkan dengan sel myeloma.
2.
Penyaringan
produksi antibodi tikus Serum antibodi pada darah tikus itu dinilai setelah
beberapa minggu imunisasi. Titer serum antibodi ditentukan dengan berbagai
macam teknik seperti enzyme link immunosorbent assay (ELISA) dan flow
cytometry. Fusi sel dapat dilakukan bila titer antibodi sudah tinggi jika titer
masih rendah maka harus dilakukan booster
sampai respons yang adekuat tercapai. Pembuatan sel hybridoma secara in
vitro diambil dari limpa tikus yang dimatikan.
3.
Persiapan sel
myeloma Sel myeloma yang didapat dari tumor limfosit abadi tidak dapat tumbuh
jika kekurangan hypoxantine guanine phosphoribosyl transferase (HGPRT) dan sel
limpa normal masa hidupnya terbatas. Antibodi dari sel limpa yang memiliki masa
hidup terbatas menyediakan HGPRT lalu digabungkan dengan sel myeloma yang
hidupnya abadi sehingga dihasilkan suatu hybridoma yang dapat tumbuh tidak
terbatas. Sel myeloma merupakan sel abadi yang dikultur dengan 8 azaguanine
sensitif terhadap medium seleksi hypoxanthine aminopterin thymidine (HAT). Satu
minggu sebelum fusi sel, sel myeloma dikultur dalam 8 azaguanine. Sel harus
mempunyai kemampuan hidup tinggi dan dapat tumbuh cepat. Fusi sel menggunakan
medium HAT untuk dapat bertahan hidup dalam kultur.
4.
Fusi sel myeloma
dengan sel imun limpa Satu sel limpa digabungkan dengan sel myeloma yang telah
dipersiapkan. Fusi ini diselesaikan melalui sentrifugasi sel limpa dan sel
myeloma dalam polyethylene glycol suatu zat yang dapat menggabungkan membran
sel. Sel yang berhasil mengalami fusi dapat tumbuh pada medium khusus. Sel itu
kemudian didistribusikan ke dalam tempat yang berisi makanan, didapat dari
cairan peritoneal tikus. Sumber makanan sel itu menyediakan growth factor untuk
pertumbuhan sel hybridoma.
5.
Pengembangan
lebih lanjut kloning sel hybridoma Kelompok kecil sel hybridoma dapat
dikembangkan pada kultur jaringan dengan cara seleksi ikatan antigen atau
dikembangkan melalui metode asites tikus. Kloning secara limiting dilution akan
memastikan suatu klon itu berhasil. Kultur hybridoma dapat dipertahankan secara
in vitro dalam tabung kultur (10-60 ug/ml) dan in vivo pada tikus, hidup tumbuh
di dalam suatu asites tikus. Konsentrasi antibodi dalam serum dan cairan tubuh
lain 1-10 ug/ml.
Mekanisme
Kerja Antibodi Monoklonal
Antibodi monoklonal menggunakan mekanisme
kombinasi untuk meningkatkan efek sitotoksik sel tumor. Mekanisme komponen
sistem imun adalah antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC), complement
dependent cytotoxicity (CDC), mengubah signal transduksi sel tumor atau
menghilangkan sel permukaan antigen. Antibodi dapat digunakan sebagai target
muatan (radioisotop, obat atau toksin) untuk membunuh sel tumor atau
mengaktivasi prodrug di tumor, antibody directed enzyme prodrug therapy
(ADEPT). Antibodi monoklonal digunakan secara sinergis melengkapi mekanisme
kerja kemoterapi untuk melawan tumor.
Antibody
dependent cellular cytotoxicity (ADCC)
Antibody dependent cellular cytotoxicity
(ADCC) terjadi jika antibodi mengikat antigen sel tumor dan Fc antibodi melekat
dengan reseptor Fc pada permukaan sel imun efektor. Interaksi Fc reseptor ini
berdasarkan kemanjuran antitumor dan sangat penting pada pemilihan suatu
antibodi monoklonal. Sel efektor yang berperan masih belum jelas tapi
diasumsikan sel fagosit mononuklear dan atau natural killer (NK). Struktur Fc
domain dimanipulasi untuk menyesuaikan jarak antibodi dan interaksi dengan Fc
reseptor. Antibody dependent cellular cytotoxicity (ADCC) dapat meningkatkan
respons klinis secara langsung menginduksi destruksi tumor melalui presentasi
antigen dan menginduksi respons sel T tumor. Antibodi monoklonal berikatan
dengan antigen permukaan sel tumor melalui Fc reseptor permukaan sel NK. Hal
ini memicu penglepasan perforin dan granzymes untuk menghancurkan sel tumor. Sel
- sel yang hancur ditangkap antigen presenting cell (APC) lalu dipresentasikan
pada sel B sehingga memicu penglepasan antibodi kemudian antibodi ini akan
berikatan dengan target antigen. Sel cytotoxic T lymphocytes (CTLs) dapat
mengenali dan membunuh sel target antigen.
Complement
dependent cytotoxicity (CDC)
Pengikatan antibodi monoklonal dengan antigen
permukaan sel akan mengawali kaskade komplement. Complement dependent
cytotoxicity (CDC) merupakan suatu metode pembunuh sel tumor yang lain dari
antibodi. Imunoglobulin G1 dan G3 sangat efektif pada CDC melalui jalur klasik
aktivasi komplemen. Formasi kompleks antigen antibodi merupakan komplemen C1q
berikatan dengan IgG sehingga memicu komplemen protein lain untuk mengawali
penglepasan proteolitik sel efektor kemotaktik / agen aktivasi C3a dan C5a. Kaskade
komplemen ini diakhiri dengan formasi membrane attack complex (MAC) sehingga
terbentuk suatu lubang pada sel membran. Membrane attack complex (MAC)
memfasilitasi keluar masuknya air dan Na++ yang akan menyababkan sel target
lisis.
Perubahan
transduksi signal
Reseptor growth factor merupakan suatu antigen target
tumor, ekspresinya berlebihan pada keganasan. Aktivasi transduksi signal pada
kondisi normal akan menginduksi respons mitogenik dan meningkatkan kelangsungan
hidup sel, hal ini diikuti dengan ekspresi perkembangan sel tumor yang
berlebihan yang juga menyebabkan tumor tidak sentitif terhadap zat kemoterapi.
Antibodi monoklonal sangat potensial menormalkan laju perkembangan sel dan
membuat sel sensitif terhadap zat sitotoksik dengan menghilangkan signal
reseptor ini. Target antibodi EGFR merupakan inhibitor yang kuat untuk
transduksi signal. Terapi antibodi monoklonal memberikan efek penurunan densiti
ekspresi target antigen contohnya penurunan konsentrasi EGFR permukaan sel
tumor atau membersihkan ligan seperti VEGF. Pengikatan ligand reseptor growth
factor memicu dimerisasi dan aktivasi kaskade signal sehingga terjadi
proliferasi sel dan hambatan terhadap zat sitotoksik. Antibodi monoclonal menghambat
signal dengan cara menghambat dimerisasi atau mengganggu ikatan ligand.
Imunomodulasi
Beberapa percobaan menunjukkan antibodi yang langsung
melawan cytotoxic T lymphocyte antigen 4 (CTLA 4) terbukti dapat menginduksi
regresi imun. Pola toksisiti yang diteliti pada uji klinis memperlihatkan
hubungan perlekatan CTLA 4 dengan ligand dapat menginduksi respons autoimun,
hal ini terlihat pada aktivasi sel T dependent. Gabungan antibodi antiCTLA 4
dengan antibodi monoklonal menginduksi ADCC, kemoterapi sitotoksik atau
radioterapi sehingga dapat meningkatkan respons imun terhadap antigen spesifik
tumor.
Penghantaran
muatan sitotoksik
Antibodi monoklonal pada terapi
kanker akan melawan target sel tumor dengan cara mengikat sel spesifik tumor
dan menginduksi respons imun. Antibodi monoklonal telah digunakan secara luas
dalam percobaan sebagai zat sitotoksik sel - sel tumor. Modifikasi antibodi
monoklonal dilakukan dengan tujuan sebagai zat penghantar radioisotop, toksin
katalik, obat – obatan, sitokin, enzim atau zat konjugasi aktif lainnya. Pola
antibodi bispesifik pada kedua bagian Fab memungkinkan untuk mengikat target
antigen dan sel efektor.
Antibodi
directed enzyme prodrug therapy (ADEPT)
Antibodi directed enzyme prodrug therapy (ADEPT)
menggunakan antibodi monoklonal sebagai penghantar untuk sampai ke sel tumor
kemudian enzim mengaktifkan prodrug pada tumor, hal ini dapat meningkatkan
dosis active drug di dalam tumor. Konjugasi antibodi monoklonal dan enzim
mengikat antigen permukaan sel tumor kemudian zat sitotoksik dalam bentuk
inaktif prodrug akan mengikat konjugasi antibodi monoklonal dan enzim permukaan
sel tumor akhirnya inaktivasi prodrug terpecah dan melepaskan active drug di
dalam tumor.
Keuntungan
dan Kerugian Antibodi Monoklonal
A.
Keuntungan
·
Antibodi
Monoklonal homogen dan konsisten
·
Mereka
dapat diperbaharui setelah hibridoma yang cocok dikembangkan
·
Kemurnian
dan konsentrasi antibodi spesifik lebih tinggi pada Antibodi Monoklonal
dibandingkan dengan antibodi poliklonal.
·
Antibodi
Monoklonal sangat sensitif terhadap perubahan kecil dalam konsentrasi garam dan
pH.
·
Mereka
dapat dengan mudah diuji untuk reaktivitas silang
B.
Kerugian
·
Kekhususan
tunggal Antbodi Monoklonal juga membatasi aplikasi mereka
·
Perubahan
kecil dalam struktur epigen antigen memengaruhi fungsi Antibodi Monoklonal
·
Produksi
Antibodi Monoklonal harus sangat spesifik untuk antigen yang harus diikat.
·
Mereka
tidak cocok untuk digunakan dalam tes seperti hemaglutinasi yang melibatkan
antigen cross-linking; sedikit modifikasi mempengaruhi tempat pengikatan
antibody
·
Meskipun
keterbatasan ini dapat diatasi dengan mengumpulkan dalam beberapa Antibodi
Monoklonal dari kekhususan yang diperlukan, identifikasi Antibodi Monoklonal
tersebut dapat terbukti mahal, melelahkan, dan memakan waktu.
Reff :
Abbas AK, Lichtman AH. Antibodies and
antigens. In: Schmitt WR, Krehling H, editors. 2005. Cellular and molecular immunology. 5th ed. Philadelphia: Elsevier
Saunders.
Adams GP, Weiner LM. 2005. Monoclonal antibody therapy
of cancer. Nature Biotechnology.
Alberts B, Johnson A,
Lewis J, Raff M, Robert K, Walter P. Manipulating proteins, DNA, and RNA. In:
Anderson MS, Dilernia B, editors. 2002. Molecular
biology of the cell. 4th ed. New York: Garland Science.
Kőhler G, Milstein C.
1975. Continous cultures of fused cells
secreting antibody of predifined specificity. Nature
Nelson PN, Reynolds GM,
Waldron EE, Ward E, Giannopoulos K, Murray PG. 2000. Demystified monoclonal antibodies. J Clin Pathol: Mol Pathol.
Tuscano J. M., K.
Noonan, T. Mulrooney. 2005. Monoclonal antibodies: case studies in novel
therapies. In: Frankel C, editor. A continuing education program for oncology
nurses. Pittsburgh: OES
Ward
PA, Adams J, Faustman D, Gebhart GF, Geistfeld JG, Imbaratto JW, et al.
Monoclonal antibody production. In: Grossblatt N, editor. 1999. A report of the commitee on methods of
producing monoclonal antibodies institute for laboratory animal research national
research council. Washington DC: National Academy Press.
Comments
Post a Comment